PEMAHAMAN TEORI BELAJAR SOSIAL (SOCIAL LEARNING) ALBERT BANDURA SEBAGAI PENDEKATAN DAN SOLUSI DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR


Ditulis Oleh:
I Putu Susila Darma

A. Pengantar
Pembelajaran adalah proses atau cara menjadikan makhluk hadup belajar. Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah
tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (KBBI, 1996). Pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sedangkan belajar adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan uang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah, berkembang daya pikir, sikap dan lain-lain.
Dalam pembelajaran tersebut, perlu mengembangkan budaya belajar yang mana dan bagaimana diupayakan untuk diterapkan. dengan kata lain, persoalan belajar sebagai budaya yang akan dikembangkan, tidak bisa dipisahkan dengan pemaknaan hakikat manusia baik yang belajar maupun yang membelajarkan. Persoalan atau masalah belajar merupakan masalah yang selalu aktual dan selalu dihadapi oleh setiap orang, maka dari itu banyak ahli-ahli membahas dan menghasilkan berbagai teori tentang belajar. Dalam hal ini tidak dipertentangkan kebenaran setiap teori yang dihasilkan, tetapi yang lebih penting adalah pemakaian teori-teori itu dalam praktek.
Pasal I Undang- undang No. 20 tahun 2003 yang menyebutkan tentang pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu. Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita semua memahami proses inhern yang kompleks dari belajar. Ada tiga perspektif utama dalam teori belajar, yaitu behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme. Pada dasarnya teori pertama dilengkapi oleh teori kedua dan seterusnya, sehingga ada varian, gagasan utama, ataupun tokoh yang tidak dapat dimasukkan dengan jelas termasuk yang mana, atau bahkan menjadi teori tersendiri. Namun hal ini tidak perlu kita perdebatkan. Yang lebih penting untuk kita pahami adalah teori mana yang baik untuk diterapkan pada kawasan tertentu, dan teori mana yang sesuai untuk kawasan lainnya. Pemahaman semacam ini penting untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
Menurut salah satu pakar teori pembelajaran, yaitu Bandura mengatakan bahwa proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model juga merupakan tindakan belajar. Teori ini menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial jenis ini. Contohnya, seseorang yang hidupnya dan dibesarkan di dalam lingkungan judi, maka dia cenderung untuk memilih bermain judi, atau sebaliknya menganggap bahwa judi itu adalah tidak baik.
Guru yang professional tidak akan merasa enggan melakukan berbagai perubahan dan perbaikan terhadap kesulitan atau kecemasan belajar, dan kemudian meningkatkannya menuju ke arah perbaikan-perbaikan secara profesional. Guru yang profesional perlu melihat dan menilai sendiri secara kritis terhadap praktek pembelajarannya di kelas. Dengan memahami teori-teori belajar yang ada, maka guru pada akhirnya akan dapat mengajar secara profesional.
Guru sebagai salah satu pemegang utama di dalam menggerakkan kemajuan dan perkembangan dunia pendidikan. Tugas utama seseorang guru ialah mendidik, mengajar, membimbing, melatih, oleh sebab itulah tanggung jawab keberhasilan pendidikan berada di pundak guru. Guru sebagai juru mudi dari sebuah kapal, mau kemana arah dan haluan kapal dihadapkan, bila juru mudinya pandai dan terampil, maka kapal akan berlayar selamat sampai tujuan. Gelombang dan ombak sebesar apa pun akan dapat dilaluinya dengan tenang dan bertanggungjawab. Demikian pula halnya seorang guru, agar proses pembelajaran
berhasil dan mutu pendidikan meningkat, maka diperlukan guru yang memahami dan menghayati profesinya, dan tentunya guru yang memiliki wawasan pengetahuan dan keterampilan sehingga membuat proses pembelajaran aktif, guru mampu menciptakan suasana pembelajaran inovatif, kreatif, dan menyenangkan.
Berpijak dari hal diatas, dalam konteks belajar guru perlu selalu mencoba untuk mengenal, mengubah, mengembangkan, serta meningkatkan kualitas dirinya agar mampu mengenal makna belajar yang sesuai dengan tuntuan karakteristik peserta didik. Guru harus mampu memahami bagaimana peserta didik belajar dan bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak peserta didik, serta memahami tentang bagaimana siswa belajar. Untuk dapat memahami proses belajar yang terjadi pada diri siswa, guru perlu menguasai hakikat dan konsep dasar belajar. Dengan menguasai hakikat dan konsep dasar tentang belajar diharapkan guru mampu menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran, karena fungsi utama pembelajaran adalah memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya belajar dalam diri peserta didik.  


B. Esensi Guru dalam Membelajarkan Peserta Didik
Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan penting dalam pendidikan formal pada, karena bagi peserta didik guru sering dijadikan tokoh teladan, bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Oleh karena itu, guru seyogianya memiliki perilaku dan kompetensi yang memadai untuk mengembangkan peserta didik secara utuh. Guru dalam melaksanakan tugas profesinya dihadapkan pada berbagai pilihan, seperti cara bertindak bagaimana yang paling tepat, bahan belajar apa yang paling sesuai, metode penyajian bagaimana yang paling efektif, alat bantu apa yang paling cocok, langkah-langkah apa yang paling efisien, sumber belajar mana yang paling lengkap, sistem evaluasi apa yang paling tepat, dan sebagainya.
Guru sebagai pelaksana tugas otonom diberikan keleluasaan untuk mengelola pembelajaran, apa yang harus dikerjakan oleh guru, dan guru harus dapat menentukan pilihannya dengan mempertimbangkan semua aspek yang relevan atau menunjang tercapainya tujuan. Dalam hal ini guru bertindak sebagai pengambil keputusan. Guru sebagai pihak yang berkepentingan secara operasional dan mental harus dipersiapkan dan ditingkatkan profesionalnya, karena hanya dengan demikian kinerja mereka dapat efektif. Apabila kinerja guru efektif maka tujuan pendidikan akan tercapai. Yang dimaksud dengan profesionalisme di sini adalah kemampuan dan keterampilan guru mulai dari tahap perencanaan, proses, serta evaluasi hasil belajar siswa.
Hal ini seperti yang diungkapkan Gagne (1992), yang menyatakan bahwa “Instruction is a set of event that effect learners in such a way that learning is facilitated.” Oleh karena itu menurut Gagne, mengajar merupakan bagian dari pembelajaran, dengan konsekuensi peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber, pemahaman teori belajar dan fasilitas yang tersedia untuk dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu. dengan demikian menurut Trianto (2007:10) mengatakan bahwa, merupakan hal yang sangat penting para pengajar untuk mempelajari dan menambah wawasan tentang pembelajaran yang telah diketahui. Karena dengan menguasai makna dari sebuah pembelajaran, maka pendidik akan merasakan adanya kemudahan didalam pelaksanaan pembelajaran dikelas, dengan tujuan pembelajaran yang hendak kita capai dalam proses pembelajarandapat tercapai dan tuntas sesuai yang diharapkan.

Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas. Masalah-masalah itu diantaranya 1) Keterlambatan akademik, yaitu keadaan murid yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal, kecepatan dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memilki IQ 130 atau lebih, tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi; 2) Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memilki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran khusus; 3) Kurang motivasi belajar, yaitu keadaan murid yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas; 4) Bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi murid yang kegiatannya tau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui dan sebagainya; dan 5) Sering tidak sekolah, yaitu murid-murid yang sering tidak hadir atau menderita sakit dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga kehilanggan sebagian besar kegiatan belajarnya.

D. Beberapa Faktor Kesulitan Belajar
1)   Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahun.
2)   Ketidakseimbangan mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasan cenderung kurang.
3)   Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyusuaikan diri (maladjusment), tercekam rasa takut, benci dan antipati, serta ketidak matangan emosi.
4)   Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap yang salah, seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah malas dalam belajar, dansering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.
Selain kesulitan belajar diatas, ada faktor-faktor eksternal (faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu), diantaranya, sifat kurikulum yang kurang fleksibel, terlalu berat beban belajar (murid) dan untuk mengajar (guru), metode mengajar yang kurang memadai, kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar, keluarga tidak utuh atau kurang harmonis, sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya, dan keadaan ekonomi merosot.
Disisi lain, Bloom (dalam Nasution 1992: 99) mengatakan bahwa kebermaknaan belajar dapat pula dilihat dari ketiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Faktor yang mempengaruhi proses belajar antara lain sebagai berikut.

1.  Faktor internal
a.  Kematangan untuk belajar
Kematangan untuk belajar ada kaitannya dengan bertumbuhan biologis. Misalnya anak yang dalam masa pertumbuhannya belum tiba pada suatu tahap untuk belajar berjalan, janganlah dipaksa untuk mulai belajar berjalan. Dia belum matang untuk belajar berjalan. Pemaksaan untuk belajar sesuatu sebelum sampai pada tahap kematangannya akan menimbulkan akibat yang tidak menyenangkan.
b.  Kemampuan atau keterampilan dasar untuk belajar
Faktor ini merupakan prasyarat bagi keberhasilan proses belajar. Seseorang yang memiliki kemampuan belajar asli yang tinggi akan lebih cepat berhasil dalam belajar. Begitu juga dengan siswa yang belajar terlebih dahulu memiliki bekal kemampuan yang diprasyaratkan untuk mempelajari sesuatu, maka dia cenderung akan lebih berhasil dalam belajar tentang hal itu.
c.   Dorongan untuk berprestasi
Dorongan ini sangat penting untuk meningkatkan kemauan siswa untuk belajar.

2.  Faktor dari luar siswa
a.  Suasana tempat belajar
Siswa akan senang belajar pada tempat yang tertera rapi, bersih dan menyenangkan.
b.  Pelatihan
Semakin sering upaya untuk mengulangi terjadinya hubungan stimulus-respons sehingga dapat meningkatkan mutu prilaku yang ditimbulkan oleh upaya pengulangan itu.
c.   Penguatan (reinforcement)
Penguatan terhadap respons yang diberikan siswa kepada suatu stimulus pembelajaran merupakan upaya yang efektif untuk mencapai keberhasilan belajar dan pembelajaran. Penguatan dapat dilakukan dengan sistem ganjaran atau penghargaan terhadap respons siswa kepada stimulus yang sesuai dengan yang diinginkan dalam rangka pembelajaran itu.

E.  Peran Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar sangat berperan dalam mengatasi kesulitan belajar,   Pengembangan sikap dan kebiasaan yang baik, terutama dalam mengerjakan tugas dalam ketrampilan serta dalam bersikap terhadap guru; bimbingan belajar dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: menumbuhkan disiplin belajar dan terlatih, baik secara mandiri atau kelompok; mengembangkan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial dan budaya di lingkungan sekolah atau alam sekitar untuk pengembangan pengetahuan, ketrampilan dan pengembangan pribadi.
Salah satu bagian yang juga faktor terpenting dalam belajar ialah memberikan sebuah motivasi. Menurut Palardi (dalam Ali, 1996:30) menyatakan bahwa, motivasi belajar memegang peranan yang sangat penting dalam memberikan gairah, semangat, dan rasa senang dalam belajar sehingga yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energy yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar. Siswa yang mempunyai motivasi tinggi sangat sedikit yang tertinggal yang tertinggal belajarnya dan sangat sedikit pula kesalahan dalam belajarnya.
Salah satu contoh nyata pada era teknologi seperti sekarang, anak-anak terkadang tidak dapat memanfaatkannya dengan baik. Seperti kehadiran internet yang lebih sering digunakan hanya untuk games dan sosial media misalnya. Padahal dengan internet akan lebih memudahkan proses belajar mereka. Untuk itu orang tua sangat perlu turun tangan dalam proses belajar anak. Agar tidak salah memanfaatkan internet, arahkan mereka untuk membuka konten-konten pendidikan. Situs Indismart misalnya. Indismart merupakan konten pendidikan yang dilengkapi dengan animasi edukasi yang pasti menarik perhatian anak. Sehingga mereka akan lebih semangat belajar karena bentuknya yang belajar sambil bermain. Sangat sesuai bagi anak-anak yang memiliki kesulitan dalam motivasi belajar. Oleh karena itu akan lebih baik, jika bimbingan belajar ini diperankan dengan optimal.



F.  Konsepsi Teori Belajar Sosial Albert Bandura
Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial (Social Learning Teory) salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Eksperimen yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak-anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. Teori kognitif sosial (social cognitive theory) yang dikemukakan oleh Albert Bandura menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif serta faktor pelaku memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif berupa ekspektasi/ penerimaan siswa untuk meraih keberhasilan, faktor sosial mencakup pengamatan siswa terhadap perilaku orangtuanya. Menurut Bandura ketika siswa belajar mereka dapat merepresentasikan atau mentrasformasi pengalaman mereka secara kognitif. Bandura mengembangkan model deterministik resipkoral yang terdiri dari tiga faktor utama yaitu perilaku, person/kognitif dan lingkungan. Faktor ini bisa saling berinteraksi dalam proses pembelajaran. Faktor lingkungan mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhi lingkungan, faktor person/kognitif mempengaruhi perilaku. Faktor person Bandura tak punya kecenderungan kognitif terutama pembawaan personalitas dan temperamen. Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi pemikiran dan kecerdasan. Dalam model pembelajaran Bandura, faktor person (kognitif) memainkan peranan penting. Faktor person (kognitif) yang dimaksud saat ini adalah self-efficasy atau efikasi diri.
Teori pembelajaran sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik). Teori belajar sosial menekankan bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang secara kebetulan, maka lingkungan-lingkungan itu kerap kali akan dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura, “sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain”. Inti dari pembelajaran sosial adalah pemodelan (modelling), dan pemodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu.
Ada dua jenis pembelajaran melalui pengamatan ,Pertama. Pembelajaran melalui pengamatan dapat terjadi melalui kondisi yang dialami orang lain, Contohnya: seorang pelajar melihat temannya dipuji dan ditegur oleh gurunya karena perbuatannya, maka ia kemudian meniru melakukan perbuatan lain yang tujuannya sama ingin dipuji oleh gurunya. Kejadian ini merupakan contoh dari penguatan melalui pujian yang dialami orang lain. Kedua, pembelajaran melalui pengamatan meniru perilaku model meskipun model itu tidak mendapatkan penguatan positif atau penguatan negatif saat mengamati itu sedang memperhatikan model itu mendemonstrasikan sesuatu yang ingin dipelajari oleh pengamat tersebut dan mengharapkan mendapat pujian atau penguatan apabila menguasai secara tuntas apa yang dipelajari itu. Model tidak harus diperagakan oleh seseorang secara langsung, tetapi kita dapat juga menggunakan seseorang pemeran atau visualisasi tiruan sebagai model (Nur, M,1998.4).
Seperti pendekatan teori pembelajaran terhadap kepribadian, teori pembelajaran sosial berdasarkan pada penjelasan yang diutarakan oleh Bandura bahwa sebagian besar daripada tingkah laku manusia adalah diperoleh dari dalam diri, dan prinsip pembelajaran sudah cukup untuk menjelaskan bagaimana tingkah laku berkembang. Akan tetapi, teori-teori sebelumnya kurang memberi perhatian pada konteks sosial dimana tingkah laku ini muncul dan kurang memperhatikan bahwa banyak peristiwa pembelajaran terjadi dengan perantaraan orang lain. Maksudnya, sewaktu melihat tingkah laku orang lain, individu akan belajar meniru tingkah laku tersebut atau dalam hal tertentu menjadikan orang lain sebagai model bagi dirinya.
Menurut Bandura dan Walters dalam (Slameto, 2003:21) menyatakan bahwa, tingkah laku baru dikuasai atau dipelajari mula-mula dengan mengamati dan meniru suatu model/contoh/teladan. Model yang ditiru atau diamati misalnya kehidupan yang nyata, simbolik (model yang dipresentasikan secara lisan atau tertulis), dan representasional (model yang dipresentasikan dengan alat-alat audiovisual terutama TV dan radio).
Meniru ini juga memiki pengaruh. Menurut Bandura dan Walters, penguasaan tingkah laku atau respon baru, pertama-tama adalah hasil dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam waktu yang bersamaan (kontiguitas) yang diamati. Kuat lemahnya respon itu bergantung pada penguatan. Menurut teori ini, yang penting adalah bagaimana respon itu mula-mula dipelajari. Dan proses tersebut akan lebih jelas dengan memperhatikan 3 macam pengaruh yang berbeda dari pengamatan (observasi) dan peniruan yaitu, modeling effect, disinhibitory effect, dan eliciting effect.
Perilaku peniruan manusia terjadi karena manusia merasa telah memperoleh tambahan ketika kita meniru orang lain, dan memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya. Menurut Bandura, sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari melalui peniruan maupun penyajian, contoh tingkah laku (modeling). Dalam hal ini orang tua dan guru memainkan peranan penting sebagai seorang model atau tokoh bagi anak-anak untuk menirukan tingkah laku membaca.
Menurut Bandura, perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri (kognitif) dan lingkungan. pandangan ini menjelaskan, beliau telah mengemukakan teori pembelajaran peniruan, dalam teori ini beliau telah menjalankan kajian bersama Walter (1963) terhadap perlakuan anak-anak apabila mereka menonton orang dewasa memukul, mengetuk dengan palu besi dan menumbuk sambil menjerit-jerit dalam video. Setelah menonton video anak-anak ini diarah bermain di kamar permainan dan terdapat patung seperti yang ditayangkan dalam video. Setelah anak-anak tersebut melihat patung tersebut,mereka meniru aksi-aksi yang dilakukan oleh orang yang mereka tonton dalam video.
Berdasarkan teori ini terdapat beberapa cara peniruan yaitu meniru secara langsung. Contohnya guru membuat demostrasi cara membuat kapal terbang kertas dan pelajar meniru secara langsung. Seterusnya proses peniruan melalui contoh tingkah laku. Contohnya anak-anak meniru tingkah laku bersorak dilapangan, jadi tingkah laku bersorak merupakan contoh perilaku di lapangan. Keadaan sebaliknya jika anak-anak bersorak di dalam kelas sewaktu guru mengajar, semestinya guru akan memarahi dan memberi tahu tingkahlaku yang dilakukan tidak dibenarkan dalam keadaan tersebut, jadi tingkah laku tersebut menjadi contoh perilaku dalam situasi tersebut. Proses peniruan yang seterusnya ialah elisitasi. Proses ini timbul apabila seseorang melihat perubahan pada orang lain. Contohnya seorang anak-anak melihat temannya melukis bunga dan timbul keinginan dalam diri anak-anak tersebut untuk melukis bunga. Oleh karena itu, peniruan berlaku apabila anak-anak tersebut melihat temannya melukis bunga.
Menurut teori belajar sosial, perbuatan melihat saja menggunakan gambaran kognitif dari tindakan, secara rinci dasar kognitif dalam proses belajar dapat diringkas dalam 4 tahap , yaitu : perhatian/atensi, mengingat/retensi, reproduksi gerak , dan motivasi. Subjek harus memperhatikan tingkah laku model untuk dapat mempelajarinya. Subjek memberi perhatian tertuju kepada nilai, harga diri, sikap, dan lain-lain yang dimiliki. Contohnya, seorang pemain musik yang tidak percaya diri mungkin meniru tingkah laku pemain music terkenal sehingga tidak menunjukkan gayanya sendiri. Subjek yang memperhatikan harus merekam peristiwa itu dalam sistem ingatannya. Ini membolehkan subjek melakukan peristiwa itu kelak bila diperlukan atau diingini. Kemampuan untuk menyimpan informasi juga merupakan bagian penting dari proses belajar. Setelah mengetahui atau mempelajari sesuatu tingkahlaku, subjek juga dapat menunjukkan kemampuannya atau menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk tingkah laku. Contohnya, mengendarai mobil, bermain tenis. Jadi setelah subyek memperhatikan model dan menyimpan informasi, sekarang saatnya untuk benar-benar melakukan perilaku yang diamatinya. Praktek lebih lanjut dari perilaku yang dipelajari mengarah pada kemajuan perbaikan dan keterampilan. Motivasi juga penting dalam pemodelan Albert Bandura karena ia adalah penggerak individu untuk terus melakukan sesuatu. Jadi subyek harus termotivasi untuk meniru perilaku yang telah dimodelkan.

Ciri-ciri teori Pemodelan Bandura
1)   Unsur pembelajaran utama ialah pemerhatian dan peniruan
2)   Tingkah laku model boleh dipelajari melalui bahasa, teladan, nilai dan lain-lain.
3)   Pelajar meniru suatu kemampuan dari kecakapan yang didemonstrasikan guru sebagai model
4)   Pelajar memperoleh kemampuan jika memperoleh kepuasan dan penguatan yang positif
5)   Proses pembelajaran meliputi perhatian, mengingat, peniruan, dengan tingkah laku atau timbal balik yang sesuai, diakhiri dengan penguatan yang positif

G.  Penutup
Dari uraian tentang teori belajar sosial, dapat disimpulkan bahwa, belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar; komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku, konsekuensi-konsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar; hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel); dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks, disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri, perlu ditumbuhkan “sense of efficacy” dan “self regulatory” pembelajar; dalam proses pembelajaran, pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik, dan “reinforcement” dan hindari punishment yang tidak perlu.
Begitu pula perencanaan pembelajaran sangat penting untuk membantu guru dan siswa dalam mengkreasi, menata, dan mengorganisasi pembelajaran sehingga memungkinkan peristiwa belajar terjadi dalam rangka mencapai tujuan belajar. Pemahaman tori belajar sangat diperlukan untuk memandu proses belajar secara efektif. Proses pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang memiliki landasan teoretik yang humanistik, lentur, adaptif, berorientasi kekinian, dan memiliki sintak yang jelas. Oleh karena itu, menurut (Ali, 1996:40)  menyatakan bahwa “beragamnya kondisi subjek belajar tersebut dan tidak senantiasa menetapnya kondisi belajar, maka harus ada upaya-upaya untuk menyiapkan mereka dan sekaligus meneguhkannya”. Hal ini dilakukan dengan penyiapan yang terancang dan dengan upaya-upaya lainnya pula. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal Tematik Kelas VI Tema 9 Sub Tema 1 - Learn From Home

Soal Latihan Kelas III Tema 8 (Bagian 2) - Learn From Home

Soal Tematik Kelas II SD Tema 8 - Learn From Home

Soal Tematika Kelas VI Tema 9 Sub Tema 3

Soal Matematika Kelas VI Semester 2 - Learn From Home