URGENSI LINGKUNGAN SOSIAL DALAM PENDIDIKAN IPS BERDASARKAN

URGENSI LINGKUNGAN SOSIAL SEKOLAH
DALAM PENDIDIKAN IPS BERDASARKAN
KONSEP SISWA




1.1.  Latar Belakang
Ilmu atau Ilmu Pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya. Ilmu atau Ilmu Pengetahuan banyak jenisnya diantaranya, bahasa Indonesia, matematika, sains, PKn, IPS dan lain sebagainya. Salah satunya adalah ilmu sosial (Inggris:social science) atau ilmu pengetahuan sosial (Inggris:social studies) IPS adalah fusi dari disiplin ilmu-ilmu  osial. Pengertian fusi di sini berarti bahwa IPS merupakan suatu bidang studi utuh yang tidak terpisah-pisah dalam kotak-kotak disiplin ilmu yang ada. Artinya, bahwa bidang studi IPS tidak lagi mengenal adanya pelajaran geografi, ekonomi, sejarah secara terpisah, melainkan semua disiplin tersebut diajarkan secara terpadu. Adapun tujuan pembelajaran IPS agar siswa mempelajari masalah interaksi manusia serta ikut berperan aktif dalam kehidupan masyarakat.
Pengajaran IPS sangat penting bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah karena siswa yang datang ke sekolah berasal dari lingkungan yang berbeda-beda. Pengenalan mereka tentang masyarakat tempat merek menjadi anggota diwarnai oleh lingkungan mereka tersebut. Sekolah bukanlah satu-satunya wahana atau sarana untuk mengenal masyarakat. Para siswa dapat belajar mengenal dan mempelajari masyarakat baik melalui media cetak maupun elektronika, misalnya melalui acara televisi, siaran radio, dan membaca koran. Pengenalan siswa melalui wahana luar sekolah mungkin masih bersifat umum, terpencar-pencar, dan samar-samar. Oleh karena itu agar pengenalan tersebut dapat lebih bermakna, maka bahan atau informasi yang masih umum dan samar-samar tersebut perlu disistematisasikan.
Dengan demikian sekolah mempunyai peran dan kedudukan yang penting karena apa yang telah diperoleh di luar sekolah dikembangkan dan diintegrasikan menjadi sesuatu yang lebih bermakna di sekolah sesuai dengan tingkat perkembangan dan kematangan siswa. Sesuai dengan tingkat perkembangannya, siswa SD belum mampu memahami keluasan dan kedalaman masalah-masalah sosial secara utuh, tetapi mereka dapat diperkenalkan kepada masalah-masalah tersebut. Melalui pengajaran IPS siswa dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kepekaan untuk menghadapi hidup dengan tantangan-tantangannya. Selanjutnya diharapkan bahwa mereka kelak mampu bertindak secara rasional dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
Perlu disadari bahwa dunia sekarang telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat cepat di segala bidang. Kemajuan teknologi dan informasi telah mengenalkan kita pada realitas lain dari sekedar realitas fisik seperti yang sebelumnya kita rasakan. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, transportasi, dan komunikasi hubungan antarnegara tetangga menjadi lebih luas, karena dunia seakan-akan menjadi tetangga dekat. Dengan demikian seolah-olah dunia “dipindahkan” ke ruang di dalam rumah sendiri. Dalam hal ini IPS berperan sebagai pendorong untuk saling pengertian dan persaudaraan antara umat manusia. Selain itu juga IPS memusatkan perhatiannya ada ubungan antar manusia dan pemahaman sosial. Dengan demikian IPS dapat membangkitkan kesadaran bahwa kita akan berhadapan dengan kehidupan yang penuh  tantangan. Dengan kata  lain, IPS mendorong kepekaan siswa terhadap hidup dan kehidupan sosial. Namun hal tersebut berbalik arah dengan kondisi real di sekolah dasar, pengamalan ilmu IPS dalam kehidupan sehari-hari tidak dilakukan oleh siswa. Banyak dari siswa-siswi cenderung acuh tak acuh baik terhadap sesama teman, guru, ataupun tamu yang hadir pada sekolah bersangkutan. Teman cenderung sering diajak bermusuhan, dan guru yang melintas seharusnya di sapa dengan ucapan “Selamat Pagi/Siang/Om Swastiastu”, namun yang terjadi adalah mereka hanya melintas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Nah disinilah peran seorang guru sebagai tenaga pendidik professional. Guru seharusnya dapat menjadi contoh/model bagi para siswanya agar permasalahan diatas tidak terjadi. Dan dalam makalah ini akan dibahas tentang “Urgensi Lingkungan Sosial Sekolah dalam Pendidikan IPS Berdasarkan Konsep Siswa”.

1.    URGENSI/MANFAAT LINGKUNGAN SEKOLAH DALAM PENDIDIKAN
Lingkungan yang ada di sekitar anak merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dioptimalkan untuk pencapaian proses dan hasil pendidikan yang berkualitas bagi anak usia dini. Lingkungan menyediakan berbagai hal yang dapat dipelajari anak Jumlah sumber belajar yang tersedia di lingkungan ini tidaklah terbatas, sekalipun pada umumnya tidak dirancang secara sengaja untuk kepentingan pendidikan. Sumber belajar lingkungan ini akan semakin memperkaya wawasan dan pengetahuan anak karena mereka belajar tidak terbatas oleh empat dinding kelas. Selain itu kebenarannya lebih akurat, sebab anak dapat mengalami secara langsung dan dapat mengoptimalkan potensi panca inderanya untuk berkomunikasi dengan lingkungan tersebut. Penggunaan lingkungan memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna (meaningfull learning) sebab anak dihadapkan dengan keadaan dan situasi yang sebenarnya. Hal ini akan memenuhi prinsip kekonkritan dalam belajar sebagai salah satu prinsip pendidikan anak usia dini. Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar akan mendorong pada penghayatan nilai-nilai atau aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya. Kesadaran akan pentingnya lingkungan dalam kehidupan bisa mulai ditanamkan pada anak sejak dini, sehingga setelah mereka dewasa kesadaran tersebut bisa tetap terpelihara. Penggunaan lingkungan dapat menarik bagi anak. Kegiatan belajar dimungkinkan akan lebih menarik bagi anak sebab lingkungan menyediakan sumber belajar yang sangat beragam dan banyak pilihan. Kegemaran belajar sejak usia dini merupakan modal dasar yang sangat diperlukan dalam rangka penyiapan masyarakat belajar (learning societes) dan sumber daya manusia di masa mendatang.
Pemanfaatan lingkungan menumbuhkan aktivitas belajar anak (learning activities) yang lebih meningkat. Penggunaan cara atau metode yang bervariasi ini merupakan tuntutan dan kebutuhan yang harus dipenuhi dalam pendidikan untuk anak usia dini. Begitu banyaknya nilai dan manfaat yang dapat diraih dari lingkungan sebagai sumber belajar dalam pendidikan anak usia dini bahkan hampir semua tema kegiatan dapat dipelajari dari lingkungan. Namun demikian diperlukan adanya kreativitas dan jiwa inovatif dari para guru untuk dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Lingkungan merupakan sumber belajar yang kaya dan menarik untuk anak-anak. Lingkungan mana pun bisa menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak. Jika pada saat belajar di kelas anak diperkenalkan oleh guru mengenai binatang, dengan memanfaatkan lingkungan anak akan dapat memperoleh pengalaman yang lebih banyak lagi. Dalam pemanfaatan lingkungan tersebut guru dapat membawa kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan di dalam ruangan kelas ke alam terbuka dalam hal ini lingkungan. Namun jika guru menceritakan kisah tersebut di dalam ruangan kelas, nuansa yang terjadi di dalam kelas tidak akan sealamiah seperti halnya jika guru mengajak anak untuk memanfaatkan lingkungan. Memanfaatkan lingkungan sekitar dengan membawa anak-anak untuk mengamati lingkungan akan menambah keseimbangan dalam kegiatan belajar. Artinya belajar tidak hanya terjadi di ruangan kelas namun juga di luar ruangan kelas dalam hal ini lingkungan sebagai sumber belajar yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan fisik, keterampilan sosial, dan budaya, perkembangan emosional serta intelektual.
a.          Perkembangan Fisik
Lingkungan sangat berperan dalam merangsang pertumbuhan fisik anak, untuk mengembangkan otot-ototnya. Anak memiliki kesempatan yang alami untuk berlari-lari, melompat, berkejar-kejaran dengan temannya dan menggerakkan tubuhnya dengna cara-cara yang tidak terbatas. Kegiatan ini sangat alami dan sangat bermanfaat dalam mengembangkan aspek fisik anak.Dengan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber beajarnya, anak-anak menjadi tahu bagaimana tubuh mereka bekerja dan merasakan bagaimana rasanya pada saat mereka memanjat pohon tertentu, berayun-ayun, merangkak melalui sebuah terowongan atau berguling di dedaunan.
b.          Perkembangan aspek keterampilan sosial
Lingkungan secara alami mendorong anak untuk berinteraksi dengan anak-anak yang lain bahkan dengan orang-orang dewasa. Pada saat anak mengamati objek-objek tertentu yang ada di lingkungan pasti dia ingin mencritakan hasil penemuannya dengan yang lain. Supaya penemuannya diketahui oleh teman-temnannya anak tersebut mencoba mendekati anak yang lain sehinga terjadilah proses interaksi/hubungan yang harmonis. Anak-anak dapat membangun kterampilan sosialnya ketika mereka membuat perjanjian dengan teman-temannya untuk bergantian dalam menggunakan alat-alat tertentu pada saat mereka memainkan objek-objek yang ada di lingkungan tertentu. Melalui kegiatan sepeti ini anak berteman dan saling menikmati suasana yang santai dan menyenangkan.
c.          Perkembangan aspek emosi
Lingkungan pada umumnya memberikan tantangan untuk dilalui oleh anak-anak. Pemanfaatannya akan memungkinkan anak untuk mengembangkan rasa percaya diri yang positif. Misalnya bila anak diajak ke sebuah taman yang terdapat beberapa pohon yang memungkinkan untuk mereka panjat. Dengan memanjat pohon tersebut anak mengembangkan aspek keberaniannya sebagai bagian dari pengembangan aspek emosinya. Rasa percaya diri yang dimiliki oleh anak terhadap dirinya sendiri dan orang lain dikembangkan melalui pengalaman hidup yang nyata. Lingkungan sendiri menyediakan fasilitas bagi anak untuk mendapatkan pengalaman hidup yang nyata.
d.          Perkembangan intelektual
Anak-anak belajar melalui interaksi langsung dengan benda-benda atau ide-ide. Lingkungan menawarkan kepada guru kesempatan untuk menguatkan kembali konsep-konsep seperti warna, angka, bentuk dan ukuran.
Memanfaatkan lingkungan pada dasarnya adalah menjelaskan konsep-konsep tertentu secara alami. Konsep warna yang diketahui dan dipahami anak di dalam kelas tentunya akan semakin nyata apabila guru mengarahkan anak-anak untuk melihat konsep warna secara nyata yang ada pada lingkungan sekitar.

2.    KONSEPSI SISWA DALAM BELAJAR/HAKIKAT SISWA
Perhatikan anak-anak kita, ia selalu memiliki kecenderungan untuk meniru. Tidak heran ketika ada tayangan TV yang begitu menarik, dalam waktu singkat sudah bisa ditiru. Misalnya saja tayangan film naruto, dora, spongbob, dll. anak-anak yang baru berusia dua tahun sudah minta baju, tas sesuai dengan apa yang dilihat di TV. Mereka ingin meniru gaya jagoan yang disukai. Itulah memang dunia anak, dunia bermain dan dunia meniru. Apa yang ada di sekelilingnya akan ditiru habis-habisan. Anak-anak kita belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Anak-anak kita ingin selalu menjadi bintang yang dilihat di TV.
Ketika melihat sesuatu yang ditiru oleh anak itu positif, maka perlu terus dipompa sehingga apa yang menjadi keinginan anak bisa tercapai. Misalnya saja si anak ingin menjadi dai cilik sebagaimana yang diidolakan di TV. Mungkin saja anak ingin menjadi penyanyi cilik sebagaimana Debo yang menjadi penyanyi melalui kontes idola cilik. Namun ketika anak sudah mulai berperilaku dengan menyontoh yang negatif, maka segeralah untuk diperbaiki. Adi W Gunawan di dalam buku, ”Manage Your Mind For Success” menjelaskan tentang tahap pemrograman anak-anak kita. Fase pertama adalah usia 0-7, fase ini disebut fase tanam. Apapun yang dilihat, yang didengar, yang dikatakan orang pada anak kita sangat mudah untuk diterima anak. Anak belum mempunyai filter untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Usia-usia ini lebih banyak menerima dan disimpan dalam memori jangka panjang. Sepenuhnya apa yang diterima masuk ke pikiran bawah sadar. Tahun ini sangat penting dalam pembentukan anak. Orang tua sangat berperan, begitu juga jika di sekolah, guru TK memiliki peran yang cukup besar.
Fase kedua adalah usi 7-14 tahun yang disebut fase model. Pada usia ini anak-anak selalu ingin meniru tokoh yang dikagumi. Usia ini mulai memasuki pendidikan formal di SD sampai SMP atau pendidikan dasar. Masa ini merupakan m asa-masa penting bagi anak untuk membentuk kepribadinnya. Anak akan menjadi hebat, sukses, dan mulia jika yang ditiru adalah hal-hal yang positif. Sebaliknya, anak bisa salah melangkah jika apa yang dilihat dan dijadikan model itu salah, contoh-contoh negatif. Peran guru di sekolah sangat berpengaruh. Fase ketiga adalah usia 14-21 tahun, yang disebut fase sosial. Pada fase ketiga ini anak-anak cenderung melakukan interaksi sosial. Mereka lebih senang melakukan pertemanan. Fase ketiga banyak ditentukan oleh fase pertama dan kedua. Jika fase tanam dan model yang didapatkan melalui pengalaman itu positif, maka dalam fase sosial akan mengalami interaksi yang positif. Sebaliknya, jika pengalaman pada fase pertama dan kedua negatif, maka dalam interaksi sosial pun akan negatif.
Sekolah sebenarnya bisa dijadikan satu kekuatan untuk melakukan perbaikan. Sekolah seharusnya bisa berfungsi sebagi filter pembentuk perilaku positif bagi anak. Mungkin pada saat masa tanam terjadi konsep yang salah pada orang tua. Maka sekolah bisa untuk mengubahnya.
Fungsi sekolah bukan hanya untuk transfer knowledge, tetapi juga sebagai agen perubahan. Untuk menjadi agen perubahan, dibutuhkan guru-guru yang berkualitas, guru-guru yang profesional dan mempunyai visi serta misi ke depan dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Guru sebagaimana orang tua sudah seharusnya bisa menjadi model bagi anak-anak. Perilaku keseharian bisa menjadi tauladan bagi anak-anak didik. Guru bisa menjadi figur sentral dalam pembentukan kepribadian anak.
Jujur, saat ini banyak anak kehilangan figur sentral. Banyak anak yang lebih cenderung untuk menjadikan tontonan sebagai model. Bisa saja hal ini terjadi karena orang tua yang mestinya bisa sebagai model jarang ditemui karena sibuk. Sehingga anak-anak mencari figur lainnya. Misalnya saja model itu bisa ditemukan pada diri pembantu, pada tokoh sinetron yang dikagumi, atau mungkin sahabatnya yang dijadikan figur. Di sinilah guru dituntut untuk menjadi model. Berikan yang terbaik buat anak-anak kita. Banyak anak-anak yang sukses karena melihat figur gurunya yang bersahaja, tegas, dan berwibawa.
Anak-anak adalah mata rantai pewaris perjuangan dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran. Anak-anak adalah pengawal negeri tercinta. Dialah yang akan menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang telah dibangun dengan susah payah. Dalam proses transfering values and knowladge guru senantiasa mengajar dan berkomunikasi. Guru tidak bisa meninggalkan nilai-nilai dalam mendidik putra-putrinya. Sekali lagi, sebagai agen perubahan, guru bukan hanya transfer knowledge, tetapi transfer nilai-nilai. Hal-hal yang tidak baik segera diganti dengan nilai-nilai yang baik. Berbagai teori telah menyebutkan bahwa apa yang sudah diterima anak di masa tanam akan masuk dalam memori jangka panjang atau tersimpan pada alam bawah sadar. Namun demikian, kita tidak boleh berputus asa, tidak boleh hawatir untuk melakukan perubahan. Masa model bisa untuk memperbaiki kondisi yang pernah terjadi di masa tanam.
Kita bisa melihat cara kerja komputer. Ketika masih baru dan mulai diisi kemudian disimpan, maka itulah yang akan tersimpan terus. Namun suatu saat apa yang tersimpan itu harus kita delet untuk diganti dengan yang lebih baik, maka yang sudah didelet itu akan hilang. Berbeda jika ada file baru yang masuh dan tersimpan, maka sejauh mana file yang tersimpan itu terbuka kembali. Di sinilah peran guru sebagai agen perubahan. Guru berperan sebagi model yang bisa diteladani oleh anak-anak. Banyak model yang dilihat oleh anak-anak di luar sekolah. Namun di sekolahlah yang diharapkan model itu bisa ditemukan oleh anak. Sekolah setidaknya mampu menjadi filter terhadap pengaruh yang terjadi di luar.

3. HUBUNGAN LINGKUNGAN SEKOLAH DENGAN SISWA DAN PROSES PEMBELAJARAN
Manusia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan. Lingkungan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Lingkungan selalu mengitari manusia dari waktu ke waktu, sehingga antara manusia dan lingkungan terdapat hubungan timbal balik dimana lingkungan mempengaruhi manusia dan sebaliknya manusia juga mempengaruhi lingkungan. Begitu pula dalam proses belajar belajar mengajar, lingkungan merupakan sumber belajar yang berpengaruh dalam proses belajar dan perkembangan anak. Lingkungan belajar adalah tempat berlangsungnya kegiatan belajar yang mendapatkan pengaruh dari luar terhadap keberlangsungan kegiatan tersebut. Lingkungan yang merupakan sumber belajar memiliki pengaruh dalam proses pembelajaran. Lingkungan dalam arti sempit adalah alam sekitar di luar diri individu atau manusia. Lingkungan itu mencakup segala material dan stimulus di dalam dan di luar individu, baik yang bersifat fisiologis, psikologis, maupun sosio-kultural.
Lingkungan belajar menurut Muhammad Saroni, adalah ”Segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Lingkungan ini mencakup dua hal utama, yaitu lingkungan fisik danlingkungan sosial, kedua aspek lingkungan tersebut dalam proses pembelajaran haruslah saling mendukung, sehingga siswa merasa krasan di sekolah dan mau mengikuti proses pembelajaran secara sadar dan bukan karena tekanan ataupun keterpaksaan”. Sedangkan menurut Indra Djati Sidi (2005:148), ”Lingkungan belajar sangat berperan dalam menciptakan suasana belajar menyenangkan”. Lingkungan tersebut dapat meningkatkan keaktifan belajar, oleh karena itu lingkungan belajar perlu di tata semestinya. Slameto mengemukakan bahwa lingkungan belajar siswa yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Lingkungan  yang pertama yaitu lingkungan keluarga. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama pra sekolah yang dikenal anak pertama kali dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Lingkungan keluarga adalah segenap stimuli, interaksi, dan kondisi dalam hubungannya dengan prilaku ataupun karya orang lain yang berada disekitar sekelompok orang yang terikat oleh darah, perkawinan, atau adopsi. Lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap siswa karena lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang utama bagi perkembangan seorang anak. Di dalam keluarga seorang anak mengalami proses sosialisasi untuk pertama kalinya.
Lingkungan belajar yang kedua adalah lingkungan sekolah. Menurut Yusuf sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral, spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial. Lingkungan sekolah adalah jumlah semua benda mati serta seluruh kondisi yang ada didalam lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program pendidikan dan membantu siswa mengembangkan potensinya. Menurut Slameto faktor sekolah yang mempengaruhi belajar mencangkup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pembelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. Aqib mengemukakan  bahwa lingkungan yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Lingkungan keluarga terdiri dari orang tua, susana rumah dan keadaan ekonomi keluarga. Lingkungan sekolah terdiri dari cara penyajian yang tidak menarik, hubungan guru dengan murid, hubungan anak dengan anak, bahan pelajaran yang terlalu tinggi, alat-alat belajar disekolah,  jam-jam pelajaran yang kurang baik. Lingkungan masyarakat yang terdiri dari mass media, teman bergaul, kegiatan dalam masyarakat, dan corak kehidupan tetangga.
Lingkungan selalu mengitari manusia dari waktu dilahirkan sampai meninggalnya, sehingga antara lingkungan dan manusia terdapat hubungan timbal balik dalam artian lingkungan mempengaruhi manusia dan manusia mempengaruhi lingkungan. Begitu pula dalam proses belajar mengajar, lingkungan merupakan sumber belajar yang banyak berpengaruh dalam proses belajar maupun perkembangan anak. Kondisi lingkungan yang kondusif baik lingkungan rumah, lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat akan menciptakan ketenangan dan kenyamanan bagi mahasiswa dalam belajar, sehingga akan dapat mendukung kegiatan belajar dan siswa akan lebih mudah untuk mencapai prestasi yang maksimal.
                                                                                                                      
4.    PERAN LINGKUNGAN SOSIAL SEKOLAH MEMBELAJARKAN IPS
             Lingkungan  sosial  siswa  merupakan  sumber  belajar  yang  sangat  kaya  bagi pembelajaran  Ilmu  Pengetahuan  Sosial  di  SD.  Apabila  dalam  pembelajaran  tradisional guru  lebih  banyak  mengandalkan  sumber  tertulis  berupa  buku  teks  dan  diceramahkan kembali  di  kelas  maka  pemanfaatan  sumber  dari  luar  kelas  (lingkungan  sosial)  melalui berbagai  strategi  akan  dapat  meningkatkan  kualitas  pembelajaran  Ilmu  Pengetahuan Sosial di SD. Pada kegitan belajr ini Anda akan mempelajari pemikiran mengenai strategi menggali sumber belajar dari lingkungan sosial siswa terutama yang berhubungan dengan masalah-masalah  sosial  yang  dihadapioleh  para  peserta  didik  di  sekolah  dalam pembelajaran IPS. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi kurikulum IPS tingkat satuan  pendidikan  (Kurikulum  2006)  melalui  pendekatan  naturalistic  inquiry  yang menekankan  pada  aktifitas  siswa  sebagai  peneliti  dan  pusat  kegiatan  belajar  dalam mengumpulkan  informasi dari lingkungan  sosialnya. Strategi ini bukan hanya  berangkat dari  upaya  pemberdayaan  guru    IPS  SD  yang  selama  ini  terbelenggu  dalam  struktur pembelajaran  tradisional  melainkan  juga  dari  masalah  sosial  yang  dihadapi  oleh  para siswa  dan  menempatkan  mereka  sebagai  bagian  dari  masalah serta  pemecah  masalah sosial itu sendiri. Diberlakukannya  kurikulum  Tingkat  Satuan  Pendidikan  (KTSP)  sejak  tahun  2006 pada  semua  jenjang  pendidikan  dasar  dan  menengah  memberi  peluang  bagi  guru  dan siswa  untuk  menggali  sumber  belajar  dari  lingkungan  sosial  siswa.  Menggunakan lingkungan  setempat  sebagai  sumber  belajar  IPS  SD  adalah  sangat  relevan  dengan semangat  KTSP  tentang  pentingnya  menggunakan  pengalaman  sosial  siswa  sebagai sumber belajar. 
Dalam  KTSP,  guru  diposisikan  sebagai  pengadopsi  (adopter),  pengembang  dan pencipta kurikulum bagi terjadinya proses pembelajaran dengan cara menggali, mengolah dan  menyampaikan  materi  kepada  siswa  yang  berasal  dari  berbagai  sumber. Implementasi  bukan  hanya  berarti  mengikuti  dan  menerapkan  dokumen  kurikulum melainkan  juga  pengembangan  pengalaman  belajar  yang  didasarkan  atas  pengetahuan yang digali melalui proses interaksi dengan peserta didik. Jadi, dalam KTSP untuk mata pelajaran  IPS  SD  guru  berperan  sebagai  fasilitator  yang  memungkinkan  para  peserta didik  tidak  hanya  belajar  dari  dokumen  kurikulum  yang  ada  termasuk  dari  buku  teks melainkan juga dari sumber lain seperti lingkungan sosial-budaya tempat mereka berada. Tentu  saja,  menjadi  guru  yang  memiliki  kompetensi  yang  menguasai  bidang  ilmunya, metode  pembelajaran,  pemahaman  peserta  didik  dan  kemampuan  meningkatkan profesinya  juga  sangat  penting  dalam  mengimplementasikan  kurikulum  tingkat  satuan pendidikan. Dengan kompetensi yang dimilikinya, guru IPS SD dapat memfasilitasi para peserta  didik  kegiatan  belajar  dengan  cara  menggali  berbagai  sumber  dari  lingkungan setempat termasuk mengangkat issu-issu sosial kontemporer. Pada akhirnya para peserta didik  tidak  hanya  memiliki  keterampilan  dalam  melakukan  analisis,  menciptakan  dan menggunakan  berbagai  sumber  dari  lingkungan  setempat  melainkan  juga  mengambil keputusan terhadap beragam pilihan  dan alternatif budaya setempat. 
Salah satu kelemahan dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial adalah pelajaran ini terlalu menekankan pada strategi ceramah dan ekspositori atau transfer of knowledge yang  menjadikan  guru  sebagai  pusat  kegiatan  belajar  mengajar.  Guru  sebagai pengembang  kurikulum  di  tingkat  implementasi  di  ruang  kelas  kurang  peka  terhadap perkembangan  masyarakat  sehingga  materi  pembelajaran  sering  kali  lepas  dari  konteks dan  situasi  nyata  dalam  lingkungan  sosial  siswa.  Peranan  guru  IPS  SD  dalam mengembangkan  kurikulum  sangat  besar  antara  lain  dapat  dilakukan  dengan  memilih pendekatan  pembelajaran  serta  materi  pembelajaran yang bersumber  pada  lingkungan sosial siswa.
Salah satu cara untuk menjadikan pembelajaran IPS di SD berkualitas adalah dalam memilih  pendekatan  pembelajaran,  yaitu  meninggalkan  pendekatan  pembelajaran tradisional  ke  pendekatan  modern  yang  lebih  menjadikan  siswa  sebagai  pusat  kegiatan belajar, sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator. Di antara pendekatan modern tersebut adalah inquiry dengan menggunakan strategi investigasi sosial terhadap sumber belajar  dari  lingkungan  sosial  siswa  serta  masalah-masalah  sosial  yang  dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Masalah-masalah  sosial  yang  dihadapi  oleh  para  siswa  SD  sehari-hari  merupakan pengalaman  belajar  sekaligus  sebagai  sumber  belajar  IPS  SD.  Dalam  kurikulum terdahulu,  masalah-masalah  sosial  tersebut  sangat  jarang  dibawa  oleh  guru  IPS  SD  ke ruang  kelas  sebagai  bahan  pelajaran.  Masalah-masalah  sosial  tersebut  sangat  erat kaitannya  dengan  tuntutan  kurikuler  pada  pelajaran  IPS  SD  serta  terkait  pula  dengan kehidupan siswa sehari-hari. Masalah-masalah sosial tersebut dapat dilihat dari beberapa paragraf di bawah ini.
Pertama, menurunnya semangat toleransi terhadap keragaman suku, agama, ras dan antar  golongan.  Dalam  media  masa  sering  diberitakan  banyaknya  kekerasan  dan pertikaian fisik yang disebabkan tidak adanya toleransi terhadap perbedaan  tersebut. Para siswa di SD memiliki pengalaman yang cukup banyak dalam menghadapi kemajemukan jenis  kelamin,  agama,  tingkat  sosial  ekonomi  dan  lain-lain.  Apabila  siswa  SD  tidak dibekali sejak dini untuk belajar memahami toleransi terhadap kemajemukan dengan cara mengangkat  masalah  tersebut  ke  dalam  proses  pembelajaran  IPS  SD  maka  setelah dewasa  mereka  akan  dihadapkan  pada  persoalan  etnosentrisme  atai  disintegrasi (perpecahan) sosial.  Tuntutan kurikuler pelajaran IPS tentang profil lulusan sekolah yang memiliki  kompetensi  dalam  memahami  kemajemukan  budaya  bangsa,  pewarisan  nilai-nilai  luhur  budaya  bangsa,  nasionalisme  atau  rasa  kebangsaan  serta  peran  warganegara dalam menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan demokrasi seperti mendapat  kekayaan sumber  belajar.  Masalah  di  atas  dapat  Anda  gunakan  sebagai  guru  IPS  SD  dalam memperkaya bahan pelajaran/kajian di dalam kelas.
Kedua,  menurunnya  kualitas  lingkungan  hidup  yang  terkait  dengan  perilaku manusia  serta  norma  yang  tidak  dipatuhi.  Dalam  skala  kecil,  anak-anak  SD  tidak memiliki  pemahaman  tentang  pentingnya  toleransi  dengan  lingkungan  sekitarnya  yang ditandai  dengan  membuang  sampah  tidak  pada  tempatnya.  Dalam  skala  lebih  luas  para siswa  SD  mengetahui  bahwa  sungai  yang  sering  mereka  lihat   terutama  di  perkotaan  tidak  lagi  bersih  airnya  melainkan  sudah  berwarna  hitam  karena  polusi.  Hal  itu disebabkan  oleh  perbuatan  pemilik  pabrik  yang  membuang  limbah  ke  sungai  dan  merupakan contoh ketidakpedulian sosial yang akan berakibat pada menurunnya kualitas lingkungan hidup. Masalah tersebut terkait dengan perilaku manusia yang mengutamakan kepentingan  masa  kini  dan  mengabaikan  kepentingan  bangsa  untuk  masa  depan. Masalah-masalah  ini  terkait  materi  pembelajaran  IPS  SD  yang  menghendaki  agar  para siswa dapat mengambil manfaat dari pengalaman masa lalu untuk kepentingan masa kini dan mendatang, serta hidup hemat dan produktif serta mencintai lingkungan hidupnya.
Ketiga,  para  siswa  SD  senang  mengkonsumsi  barang  yang  mereka  lihat  dalam tayangan  TV.  Seringnya  mereka  menonton  acara  TV  termasuk  iklan  yang  menawarkan berbagai  produk  dapat  berakibat  pada  konsumeristis.  Konsumeristis  terhadap  produk industri untuk memenuhi kebutuhan sekunder merupakan masalah sosial. Konsumerisme memang  merupakan  perilaku  yang  dituntut  dalam  masyarakat  yang  industrialis.  Akan tetapi, apabila konsumerisme tidak diikuti dengan etos kerja keras, produktif serta hemat maka  masyarakat  yang  dilanda  oleh  budaya  konsumerisme  seperti  itu  hanya  akan menjadi  korban  dari  kapitalisme  atau  globalisasi  yang  dikendalikan  oleh  kaum  kapitalis yang  menguasai  jaringan  informasi.  Oleh  karena  itu,  kebiasaan  anak-anak  SD  untuk selalu  dibelikan  barang  yang  yang  mereka  lihat  di  TV  bisa  menjurus  ke  arah konsumeristis,  dan  hal  itu  merupakan  masalah  sosial  yang  harus  dipecahkan  sekaligus sebagai sumber belajar IPS SD.
Para  siswa  SD  di  sekolah  -  sebagai  calon  warganegara  dewasa  -  termasuk  bagian dari  kelompok  masyarakat  yang  konsumtif  dan  dengan  demikian,  mereka  merupakan bagian  dari  masalah  sosial.  Gaya  hidup  mereka  terbentuk  melalui  pesan-pesan  budaya yang  dicitrakan  oleh  tokoh-tokoh  kartun,  model  iklan  anak-anak,  serta  pujaan  yang mereka  lihat  melalui  televisi  dan  media  lainnya.  Apapun  yang  dipakai,  dikonsumsi  dan dicitrakan  oleh  tokoh  idola  di  mass  media,  cepat  atau  lambat  akan  diikuti  oleh  mereka. Iklan  produk-produk  industri  di  media  massa,  terutama  televisi,  telah  membentuk perilaku  konsumtif  masyarakat.  Masalah  besar  yang  dihadapi  bangsa  Indonesia  di  era reformasi  adalah  meningkatkan  produktifitas  serta  kualitas  sumber  daya  manusia  yang masih rendah dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara.  Pertanyaan besar yang harus  diinvestigasi  oleh  guru  dan  siswa  dalam  proses  belajar  mengajar IPS  SD  apakah bangsa Indonesia dapat bersaing dan bekerjasama aktif di era global kelak dalam kondisi masyarakatnya  yang  konsumtif  serta  sumber  daya  manusia  yang  rendah?  Pertaanyaan tersebut  harus  dapat  dijawab  melalui  proses  pembelajran  IPS  SD  dengan  cara menggunakan  sumber  belajar  dari  pengalaman  sosial  siswa  mengenai  cara,  misalnya, mengkonsumsi barang yang hemat.
Pelajaran    IPS  SD  harus  mampu  mengkaji  realitas  sosial  yang  dihadapi  oleh  para siswa. Para siswa hendaknya diajak berpikir kritis dan difasilitasi untuk menginvestigasi pertanyaan-pertanyaan  seperti:  mengapa  anak-anak  SD  lebih  suka  memilih  makanan kerupuk yang dikemas dibandingkan dengan sebutir telor?  Mengapa ada anak-anak yang miskin  ada  ada  anak-anak  yang  kaya.  Bagaimana  caranya  berhemat?  Bagaimana  cara menghindari  rayuan  iklan  di  TV?  Bagaimana  cara  menjadi  konsumen  yang  baik?  serta pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya yang menggugah siswa SD untuk menggali sumber belajar dari pengalamannya sehari-hari. 
Keempat, masalah kriminalitas dan korupsi merupakan masalah sosial.  Hal ini terkait dengan  masalah  kemiskinan,  kesenjangan  sosial  ekonomi,  menurunnya  moral  dalam masyarakat  serta  perubahan  dan  sistem  politik  dan  ekonomi  negara.  Dalam  kehidupan siswa  sehari-hari  kriminalitas  akan  tumbuh  dari  kenakalan  dan  pelanggaran  terhadap aturan  serta  norma  yang  berlaku  dalam  masyarakat.  Kebiasaan  suka  mengganggu  orang lain,  menyakiti,  merusak    benda  orang  lain  bisa  menjurus  ke  arah  perbuatan  kriminal.
Oleh  karena  itu,  kebiasaan  seperti  itu  harus  dapat  dicegah.  Para  siswa  dapat  dilatih  dan diajak berpikir kritis tentang pentingnya menjaga adat-istiadat, norma dan peraturan yang berlaku dalam masyarakat. Pengalaman siswa berhubungan  dengan hal-hal di atas dapat dijadikan sebagai sumber belajar  yang sangat berharga agar mereka menjadi siswa  yang taat  pada  aturan  serta  mempraktekkannya  dalam  kehidupan  nyata.  Guru  IPS  SD  harus dapat memfasilitasi mereka dengan kegaitan mengkaji masalah sosial seperti itu.
Dalam  konteks  pembelajaran  IPS  di  SD,  para  siswa  perlu  diajak  berpikir  kritis bahwa kenakalan berupa suka menyontek, mengutil, menyakiti orang lain bisa menjurus ke  arah  perbuatan  korup  dan  kriminal.  Hal  itu  dapat  merugikan  masyarakat  dalam lingkungan dekat serta bangsa secara keseluruhan.
Kelima, semua aspek yang terkait dengan lingkungan sosial siswa dapat dilihat sebagai  masalah  dan  sebagai  sumber  belajar.  Siswa-siswa  merupakan  bagian  dari struktur,  sistem  serta  kelembagaan  yang  ada  di  lingkungan  sosialnya.  Mereka  terkait dengan adat istiadat, norma, aturan hukum, sejarah, budaya dan lain-lain sebagai konsep-konsep  yang  terkait  dengan  tuntutan  kurikuler  pelajaran  IPS  yang  terdapat  pada  hampir semua materi pelajaran dari kelas 1 hingga kelas 6. Masalah-masalah etika, norma adat-istiadat  dalam  keluarga  di  kelas  satu  hingga  etika  berbagangsa  dan  bernegara  serta bergaul dengan masyarakat internasional merupakan materi pembelajran IPS  SD dan hal itu dapt digali dari ligkungan sosial siswa. Misalnya,  pasar  sebagai  sebuah  institusi  dan  sistem  sosial - semua  siswa  mengenal pasar - dapat  diinvestigasi  melalui  kegiatan  pembelajran  IPS  SD.  Pelajaran  IPS  dapat mengkaji  pasar  dari  sisi  budaya  dan  perilaku  manusia  dalam  memenuhi  kebutuhannya, relasi  sosial  antara  penjual  dan  pembeli,  perilaku  konsumen,  motivasi  produsen,  konflik yang  ditimbulkan  oleh  kesenjangan  antara  harapan  dengan  kenyataan  dan  lain-lain. Dalam  pelajaran  IPS  para  siswa  juga  dapat  difasilitasi  dengan  konsep  sejarah pertumbuhan pasar serta perkembangan masyarakat yang terkait dengan upaya memenuhi kebutuhan  barang  konsumsi  sepanjang  masa.  Pembelajran  IPS  dapat  menginvestigasi lingkungan  pasar  dengan  menekankan  pada  aspek  kelangkaan,  laba,  rugi,  konsumen, produsen, permintaan dan lain-lain  yang terkait dengan lingkungan pasar terdekat siswa.
Demikian  juga,  perilaku  konsumen  yang  baik,  perilaku  penjual  yang  memperhatikan aturan  norma  hukum  yang  berlaku,  etos  kerja  keras,  semangat  entrepreneurship  yang diperlukan untuk menguasai pasar pada masa yang akan datang dan lain-lain merupakan sumber  belajar  yang  berharga.  Yang  terkait  dengan  aspek  geografis,  pelajran  IPS  dapat mengkaji  lokasi,  jarak,  distribusi  dan  migrasi.  Lingkungan  sosial,  jarak  tempuh  antara lokasi  pasar  dengan  konsumen,  mobilitas  manusia  yang  terkait  dengan  sumber  ekonomi pasar,  distribusi  barang  yang  menempuh  jarak  antara  pusat  produksi  dengan  daerah konsumen merupakan masalah yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran.

3.1 Simpulan
Pemanfaatan lingkungan menumbuhkan aktivitas belajar anak (learning activities) yang lebih meningkat. Lingkungan sebagai sumber belajar yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan fisik, keterampilan sosial, dan budaya, perkembangan emosional serta intelektual. Anak-anak selalu memiliki kecenderungan untuk meniru. Apa yang ada di sekelilingnya akan ditiru habis-habisan. Anak-anak kita belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Guru sebagaimana orang tua sudah seharusnya bisa menjadi model bagi anak-anak. Perilaku keseharian bisa menjadi tauladan bagi anak-anak didik. Guru bisa menjadi figur sentral dalam pembentukan kepribadian anak.
Lingkungan selalu mengitari manusia dari waktu dilahirkan sampai meninggalnya, sehingga antara lingkungan dan manusia terdapat hubungan timbal balik dalam artian lingkungan mempengaruhi manusia dan manusia mempengaruhi lingkungan. Begitu pula dalam proses belajar mengajar, lingkungan merupakan sumber belajar yang banyak berpengaruh dalam proses belajar maupun perkembangan anak. Kondisi lingkungan yang kondusif baik lingkungan rumah, lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat akan menciptakan ketenangan dan kenyamanan bagi mahasiswa dalam belajar, sehingga akan dapat mendukung kegiatan belajar dan siswa akan lebih mudah untuk mencapai prestasi yang maksimal.
Peran lingkungan sosial sekolah membelajarkan IPS sangatlah penting karena dalam penerapan kurikulum pengajaran IPS guru dituntut untuk mengembangkan pengajarannya agar siswa tidak jenuh mempelajari IPS kemudian guru menggunakan strategi investigasi sosial terhadap sumber belajar  dari  lingkungan  sosial  siswa  serta  masalah-masalah  sosial  yang  dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari agar lebih dekat dengan siswa. 

DAFTAR PUSTAKA 
Dwi Utami, Helma. 2012. “Skripsi Penanaman Sikap Sosial Melalui Pembelajaran Ips Pada Siswa Kelas V (Studi Kualitatif Di SDN Telaga Asih 04 Cikarang Barat) . Tersedia pada http://auroralubna.files.wordpress.com/2012/02/siap-bakar-helma.pdf. (Diakses tanggal 5 Juni 2012 jam 13.00 wita).
Dahlan, Hendriansyah. 2012. “Bahan Belajar Mandiri Pendidikan IPS SD”. Tersedia pada http://Fhendriansdiamond.blogspot.com. (Diakses tanggal 5 Juni 2012 jam 13.00 wita).
Supriatna, Nana. 2012. “Bahan Belajar Mandiri Pendidikan IPS SD”. Tersedia pada http://file.upi.edu/Direktori/Dual-Modes/Pendidikan_IPS_di_SD/BBM_3.pdf. (Diakses tanggal 5 Juni 2012 jam 13.00 wita).
Utomo, Pristiadi. 2012. “Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Untuk Anak Usia Dini”. Tersedia pada http://ilmuwanmuda.wordpress.com/pemanfaatan-lingkungan-sebagai-sumber-belajar-untuk-anak-usia-dini/. (Diakses tanggal 5 Juni 2012 jam 13.00 wita).





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal Tematik Kelas VI Tema 9 Sub Tema 1 - Learn From Home

Soal Latihan Kelas III Tema 8 (Bagian 2) - Learn From Home

Soal Tematik Kelas II SD Tema 8 - Learn From Home

Soal Tematika Kelas VI Tema 9 Sub Tema 3

Soal Matematika Kelas VI Semester 2 - Learn From Home